Do’a Qunut dan Kelembutan Islam

Posted on June 15, 2017

0


Radikal, ekstrim, bunuh, hancurkan dan kata-kata sadis lainnya menghiasi citra ISLAM belakangan ini. Mulai dari bom Bali tahun 2002 di Indonesia, gerakan ISIS di timur tengah yang memporakporandakan tatanan kehidupan di kawasan tersebut, dan kasus pembunuhan serta bom bunuh diri yang dilakukan di London dan Manchester UK pada tahun 2017 ini. Sangat menyayat hati memang, miris memang,……semua ini diklaim dilakukan oleh komunitas yang mengatasnamakan ISLAM. Terlepas dari dugaan permainan media pemberitaan, atau dugaan konspirasi lainnya yang ingin menghancurkan ISLAM. Tapi semua itu hanya mengandai-andai dan menduga-duga tanpa bukti otentik yang dibenarkan secara ilmiah. Yang pasti adalah kata ‘ISLAM’ sudah menjadi menjadi negatif dan popular menghiasi kolom pemberitaan seputar terror dan pembunuhan.

Untuk meng-counter tersebut, sebenarnya usaha sebagian umat ISLAM lainnya untuk mengkampanyekan tentang ISLAM adalah agama yang damai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan cukup sering dilakukan (baca: di United Kingdom/UK). Bisa dicoba search google: Islam peace UK, maka akan muncul cukup banyak tulisan yang meberitakan bahwa ISLAM adalah agama damai dan sangat manusiawi.  Selain itu, juga ada banner yang terpasang di BUS (public transport) di UK, seperti dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini:

Bus

Gambar 1. Salah satu angkutan umum di Sheffield UK.

Kampanye tentang Islam Peace yang dimuat di media-media di UK, salah satunya: http://www.independent.co.uk/voices/you-dont-need-to-look-much-further-than-the-quran-for-proof-that-islam-is-a-peaceful-religion-a6847031.html tentunya menuai banyak komentar. Kalau dibaca komentar-komentar pembaca di kolom berita tersebut, maka muncul cukup banyak komentar yang mempertanyakan tentang apa betul ISLAM adalah agama yang damai?….ah…itu hanya mempertahankan diri saja karena MUSLIM di UK/Eropa hanya sebagai minoritas… dan lain sebagainya, seperti contoh komentar di bawah ini:

komen

Karena yang mereka lihat adalah kejadian-kejadian terror yang sering kali diklaim pelakunya adalah muslim. Argumen yang sangat masuk akal bagi yang belum mempelajari dan memahami ajaran ISLAM secara utuh.

Sebagai umat ISLAM, kita harus akui secara gentle bahwa ada sebagian komunitas yang mengatasnamakan ISLAM untuk melakukan aksi terorisme. Ada sebagian umat ISLAM yang memahami Al-Qur’an dengan sudut pandang yang berbeda dan mengklaim bahwa pandangan dan pemahamanannya itu adalah yang paling benar. Tugas kita yang paling nyata adalah selain berdo’a kepada Allah SWT memohon perlindungan agar  umat ISLAM dijauhkan dari berbagai fitnah, mari kita memilih secara selektif guru yang bisa digunakan untuk belajar dan bertanya tentang ISLAM, pagari dan lindungi keluarga kita, saudara kita, teman kita, tetangga kita dari pemahaman-pemahaman ‘radikal’ (baca: violent ideology)  yang sebenarnya  sangat bertentangan dan bertolak belakang dengan ajaran ISLAM, sebagaimana Allah berfirman:

اُدۡعُ اِلٰى سَبِيۡلِ رَبِّكَ بِالۡحِكۡمَةِ وَالۡمَوۡعِظَةِ الۡحَسَنَةِ​ وَجَادِلۡهُمۡ بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُ​ؕ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ​ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ‏

Artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS. AN NAHL 16:125]

Dalam Tafsir Ibn Katsir [1] dijelaskan bahwa, Allah SWT memerintahkan Rasulnya Muhammad SAW agar menyeru manusia untuk menyembah Allah SWT dengan cara yang bijaksana. Jika dalam proses tersebut diperlukan perdebatan dan bantahan, maka hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, yaitu dengan lemah lembut, tutur kata yang baik, serta cara yang bijaksana. Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk bersikap lemah lembut, seperti halnya yang telah Dia perintahkan kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS ketika keduanya diutus oleh Allah SWT kepada Fir’aun, yang kisahnya didokumentasikan dalam Firman-Nya QS: Thaha – 44.

Ada sebuah kisah (diriwayatkan oleh Imam Bukhari) [1], ketika Rasulullah SAW dalam fase da’wah, di awal-awal masa ISLAM di mekah, beliau kedatangan tamu dari distrik Bi’r Maunah, yang menyampaikan bahwa orang-orang di distrik tersebut semuanya masuk ISLAM, dan tamu tersebut meminta Rasulullah SAW mengirimkan utusan untuk mengajarkan ISLAM ke penduduk tersebut. Sungguh tamu tersebut memberikan kabar gembira  dan angin segar kepada Rasulullah SAW dimana kondisi ISLAM dan muslim pada waktu sungguh banyak tekanan dan ancaman, sehingga dengan penuh kegembiraan beliau mengabulkan permintaan tersebut. Rasulullah SAW mengirimkan 70 orang penghafal Al Qur’an, ahli agama, dan ahli ibadah untuk berda’wah dan mengajarkan ISLAM kepada penduduk yang baru masuk ISLAM di distrik tersebut. Tetapi tanpa disangka dan diluar dugaan ketika rombongan utusan tersebut tiba ditempat tujuan, mereka bukannya diterima dengan baik dan melakukan tugasnya berda’wah, tetapi mereka dianiaya, dan dibunuh dengan kejamnya.

Kejadian yang menimpa para utusan ini akhirnya diketahui oleh Rasulullah SAW, yaitu  ketika Beliau sedang melakukan shalat, dengan datangnya malaikat Jibril memberitahukan bahwa utusan yang Beliau kirim telah dianiaya dan dibunuh oleh penduduk Bi’r Maunah. Sebagai seorang manusia, Rasulullah SAW merasa sedih dan marah, sehingga selama sebulan setiap kali sholat subuh setelah ruku beliau selalu berdo’a kepada Allah untuk menghancurkan dan mengadzab penduduk distrik tersebut, seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنِي سَالِمٌ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ الْفَجْرِ يَقُولُ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا بَعْدَ مَا يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Salim, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW mengucapkan do’a berikut ketika beliau mengangkat kepalanya dari ruku pada rakaat yang kedua dari salat Subuh: Ya Allah, laknatilah si Fulan, dan si Fulan. Nabi SAW mengucapkan doa tersebut sesudah membaca: semoga Allah mendengar (memperkenankan) bagi orang-orang yang memuji-Nya. Ya Tuhan kami, bagi-Mu lah segala puji. Maka Allah SWT menurukan firman_nya: Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.. hingga…karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim (Ali Imran:128), hingga akhir ayat.[HR Bukhari]

Hadits tersebut menginformasikan bahwa Rasulullah SAW menginginkan penduduk Bi’r Maunah tersebut diberi adzab dan dilaknat oleh Allah SWT,  hingga pada akhirnya Allah SWT memperingatkan Rasulullah SAW dengan turunnya Surat Ali Imran 128-129:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ (128) وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya:

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim (128).

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (129)

Dari peristiwa ini sungguh bisa dijadikan ‘ibrah (contoh dan pelajaran), bahwa Alloh SWT memberi peringatan kepada manusia, sekalipun kita dalam posisi terdzolimi, maka kita sebagai manusia harus menahan diri dari melakukan hal-hal melampaui batas, karena manusia tidak memiliki hak sedikitpun untuk menghukum seseorang dan melaknat seseorang, karena tugas manusia adalah hanya menyampaikan, mengajak dan memberi contoh yang baik dengan cara santun.  ISLAM tidak memberikan ruang gerak sedikit pun untuk bertindak kekerasan, Allah SWT tidak meridhoi sedikit pun tindakan kekerasan yang dilakukan oleh manusia. Rasulullah SAW saja yang merupakan kekasih Allah dan sudah dijaga dari pebuatan dosa (ma’sum) mendapat teguran dan peringatan dari Allah SWT karena memanjatkan do’a agar Allah melaknat dan mengadzab sebuah kaum, apalagi kita sebagai manusia biasa. Manusia tidak memiliki wewenang sidikitpun, hanya Allah SWT lah yang berhak menentukan segalanya.

Sehingga, setelah menerima wahyu QS 3: 12-129, Rasulullah SAW pun mengubah do’anya (dikenal dengan do’a Qunut) dan mengajarkan kepada cucunya Hasan dan sebagian para sahabatnya, seperti yang diriwayatkan oleh Nasai dari cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radiallahu ‘anhu.

عن الْحَسَن بْن عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قال : عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ : ( اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ ، …)

Hasan bin Ali mengatakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku beberapa kalimat doa yang hendaknya aku ucapkan ketika kunut witir: ‘Allahummahdinii fiiman hadaiit, wa ‘aafinii fiiman ‘aafaiit,….dst.’ (HR. Nasa’i 1746, Abu Daud 1425, Turmudzi 464, dan dishahihkan Al-Albani. Syuaib Al-Arnauth menilai doa ini sanadnya shahih).

Berikut teks lengkap do’a qunut tersebut:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Artinya:

Ya Allah berilah aku petunjuk dan tempatkanlah diantara orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan, dan tempatkanlah diantara orang-orang yang telah Engkau beri  keselamatan. Jadilah wali bagiku, sebagaimana Engkau telah menjadi wali bagi hamba-Mu yang Engkau kehendaki, dan Berkahilah untukku terhadap apa yang telah Engkau berikan kepadaku, Lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau takdirkan. Sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan tidak ada yang menjatuhkan ketetapan untuk-Mu, dan sesungguhnya tidak akan terhina orang Engkau jadikan wali-Mu, dan tidak akan mulia orang yang menjadi musuh-Mu. Maha Mulia Engkau wahai Rab kami, dan Maha Tinggi.

Sebuah do’a yang sangat indah nan damai, tidak menujukan sedikitpun rasa kebencian dan permusuhan diantara manusia, bahkan mendo’akan agar kita dapat hidup dilingkungan yang baik-baik. Dengan do’a Qunut dan peristiwa yang melatarbelakangi do’a tersebut menunjukan bahwa ISLAM adalah agama Rahmatan Lil’alamin (rahmat untuk semesta alam), pemberi ketenangan pada setiap makhluk yang ada di muka bumi, agama yang mengajarkan cinta kasih dan perdamaian, agama yang senantiasa mendo’akan kebaikan sekalipun pada orang-orang memusuhi kita agar mereka segera diberikan hidayah oleh Allah SWT.

والله أعلمُ بالـصـواب

Referensi

[1] Tafsir Ibn Katsir

Advertisements
Posted in: Taushiyah