ISLAM NUSANTARA

Posted on November 12, 2015

0


Suatu keniscayaan, untuk menginterpretasikan Islam dalam AlQur’an dan Hadits, pasti butuh rujukan yang valid, dan pasti itu kita dapatkan dari Para Alim Ulama dan Salafushalih. Dari merekalah kita tahu dan belajar tentang Islam. Para Mufassirin, Ahli hadits, Fuqoha, Qori, Shufi, dll dapat menguasai dan menginterpretasikan kandungan AlQur’an yang begitu dalam kesusastraannya pasti dari para ulama terdahulu yang mumpuni kepakarannya dari berbagai bidang dan itu diturunkan secara turun temurun. Kita bisa membaca AlQur’an saja pasti bisanya dari seorang guru, apalagi menafsirkannya. Saya yakin bahwa semuanya Mafhum (sadar) dan tidak bisa dipungkiri bahwa tidak semua Ulama memiliki hasil akhir/luaran “IJTIHAD” yang sama, untuk diFatwakan kepada seluruh elemen masyarakat. Contoh sederhana dalam Bidang FIQH (hukum), 4 Madzhab termasyhur (Imam MALIKI, HANAFI, SYAFII, dan HAMBALI) memiliki cara pandang yang berbeda dalam menyelesaikan permasalahan hukum (fiqh), karena mereka hidup dilingkungan, akses informasi, dan kompleksitas masyarakat yang berbeda dan cara pandang yang berbeda. Apalagi sekarang, isu dan kompleksitas lingkungan yang makin membesar yang membutuhkan IJTIHAD kontekstual/kekinian yang baik. Yang pada akhirnya Ilmu-ilmu TAFSIR akan berkembang sesuai dengan perkembangan keilmuan. PERTANYAANNYA: Luaran IJTIHAD mana yang akan kita yakini? “ISIS kah? Hezbottahrir kah? Ulama yang memiliki grassroot Ke-Indonesiaan kah (e.g. NU, Muhammadiyyah), “Ulama” Facebook kah? “Ulama” media online kan? atau yang mana?.

Satu hal yang harus ada pada diri umat Islam, yaitu saling menghargai perbedaan, dan menghilangkan keangkuhan bahwa SAYALAH PALING ISLAM, sehingga dengan “mudah membuka AIB sesama umat islam, atau Takfiri, atau, justifikasi salah, atau tidak pernah TABAYYUN, merendahkan, dll”. Sepemahaman saya, ISLAM NUSANTARA hanyalah sebuah BRANDING (kemasan) saja yang muncul akhir-akhir ini dari sebuah luaran IJTIHAD ULAMA INDONESIA (sebut saja ulama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyyah karena mereka sudah ada sejak jaman perjuangan Indonesia dan merupakan terbesar di Indonesia) dari mulai dahulu (jaman perjuangan) sampai sekarang yang mempertimbangkan KOMPLEKSITAS KEINDONESIAAN yang berlandaskan Qur’an dan Hadits serta IJMA’ Ulama.

Subjectivitas saya, branding ini muncul setelah Kekisruhan DUNIA ISLAM makin mengkhawatirkan di Dunia. Hampir seluruh negara di ARAB mengalami konflik yang luar biasa. Meminjam kata-kata teman-temen saya yang berasal dari negara-negara timur tengah, bahwa mereka tidak tahu mana kawan dan mana lawan, semua meneriakan ALLAH AKBAR, semua meneriakan BISMILLAH sebelum membunuh. ISLAM bukan menjadi RAHMATAN LIL ALAMIN…ISLAM malah menjadi LA’NATAN LIL ALAMIN. Apakah ini ISLAM yang sebenarnya? Ulama Indonesia hanya menawarkan cara pandang Islam menurut IJTIHAD KeIndonesiaan yang diharapkan mengembalikan Islam ke AKAR yang sebenarnya yaitu: RAHMATAN LIL ALAMIN, sehingga semua bisa menikmati INDAHNYA ISLAM. Dan tidak bisa dipungkiri, kini mereka (negara-negara di Timur Tengah) mulai melirik Indonesia sebagai contoh ISLAM yang damai sesuai dengan nilai-nilai RAHMATAN LIL ALAMIN. WALLAH A’LAM

Advertisements
Posted in: Syari'ah