Biografi Imam Syafi’i (1)

Sumber: Pengantar Ahli-Buku Ensiklopedi Imam Syafi’i

IMAM SYAFI’I nama lengkapnya adalah Muhammad Bin Idris bin Utsman bin Syafi’i bin Sa’ib bin ‘Abid bin Abu Yazid bin Hisyam bin Muthalib bin Abbu Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah,  adalah seorang ulama besar yang sangat cemerlang. Sejak memasuki kanak-kanak dan remajanya, menghabiskan waktunya untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia dilahirkan sebagai seorang anak yatim yang tabah dan sabar serta menjalani kehidupannya dengan penuh keihlasan. Namanya demikian terkenal, sehingga memenuhi literatur-literatur islam dan dikenal luas oleh masyarakat dalam berbagai bangsa, dari masa ke masa. Ia mengawali karirnya sebagai ulama mujtahid, dengan berjuang keras dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan cita-citanya yang luhur, yang terpatri dalam hatinya yang tulus.

Syafi’i memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengatasi berbagai permasalahan dan rintangan dalam mengahadang kehidupannya, lalu ia terjun dan menekuni secara mendalam berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu-ilmu AlQur’an, As-Sunnah, bahasa, sastra, fiqih, dan berbagai disiplin ilmu lainnya yang sangat luas. Ia sangat berani melakukan ijtihad dalam melakukan pembaharuan hukum islam, hingga akhirnya Syafi’i menjadi seorang ilmuan yang sangat dikagumi dan seorang imam besar yang disegani, baik oleh murid-muridnya, teman-temannya dan bahkan oleh lawan-lawannya. Pengaruh intelektualnya memenuhi jagat raya, sehingga banyak para ilmuan yang mengembangkan pemikiran dan hasil ijtihadnya. 

Dalam usia yang sangat muda, ia telah menjadi seorang hafidz (penghapal AlQur’an) dalam usia 7 tahun, ia berguru ilmu-ilmu AlQur’an kepada Syaikh Isma’il Qistanthin di kota Mekkah, dilanjutkan dengan mempelajari kitab Hadits dari ulama-ulama di Masjid Al-Haram, diantaranya Sufyanbin ‘Uyainah, Muslim bin Kalid Al-Zanji, dan Abdul Majid bin Abdul Aziz. (Al-Umm:5). Kecerdasan, ketajaman akal dan kalbunya mulai tampak pada masa itu. Setiap kali gurunya selesai mengajar, Syafi’i kecil berdiri di tempat gurunya untuk memberikan pelajaran pada teman-teman dikelasnya, persis seperti apa yang diajarkan oleh gurunya, bahkan penjelasan-penjelasan yang disampaikannya dirasakan sangat mudah dipahami dan dapat menarik minat teman-temannya untuk mempelajari ilmu tersebut. Sejak itu Syafi’i terus menerus menjadi asisten dari guru-gurunya untuk menjelaskan berbagai macam disiplin ilmu yang dikaji waktu itu. (Al-Umm:5).

Pada usia sekitar 13 tahun, Syafi’i mulai membacakan ayat-ayat AlQur’an di depan para jama’ah di Masjid Haram, karena bacaannya dilakukan dengan penghayatan dan ketulusan hati yang mendarah daging. Banyak sekali jama’ah yang menitikan air mata karena bisa ikut menghayati kedalaman kandungan ilmu-ilmu AlQuran dan kemerduan suaranya. Imam Hakim mengatakan dengan kalimat yang agak lucu dan menarik, ia menyampaikan suatu informasi dari riwayat Bahr bin Nashr, berkata: “Apabila kami ingin menangis, kami mengatakan kepada teman-teman sejawat: “Pergilah kepada seorang anak muda bernama Syafi’i””. Apabila rombongan kami telah sampai kepadanya, ia mulai membuka dan membaca AlQuran, sehingga orang-orang yang ada di sekelilingnya berjatuhan di hadapannya karena kerasnya menangis. Kami merasa amat kagum dengan penghayatan bacaannya dan kemerduan suara yang dimilikinya, sedemikian dalamnya ia memahami dan menghayati AlQuran, sehingga sangat berkesan bagi para pendengarnya. (AlUmm:4)

Memasuki usia sekitar 16 tahun,  selain telah hafal AlQur’an, beliau juga mengahafal kitab-kitab hadits, diantaranya kitab Al-Muwatha, yang disusun oleh Imam Malik, seorang ulama besar, mujtahid, dan seorang faqih ahli hadits. Dalam usia semuda itu, Syafi’i telah menjadi seorang Mufti (pemberi fatwa) di Masjidil Haram Mekkah, yang sangat dibanggakan dan dikagumi. Pada saat itulah beliau bertekad untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari Imam Malik di Madinah. Tekadnya segera diwujudkan, dengan meninggalkan kota suci Mekkah yang amat dicintainya untuk menuju kota Rosululloh SAW, yaitu Madinah Al-Munawwaroh untuk menuntut ilmu sebagaimana yang ia rencanakan.

Sampai di Madinah, ketika Syafi’i menghadap kepada Imam Malik, Imam yang mujtahid itu menayakan padanya, apakah ia telah mengetahui kitab Al-Muwatha yang telah disusunnya.Di luar dugaan Imam Malik, ternyata Syafi’i tidak hanya mengenal kitab itu, tetapi ia telah menghafalnya di luar kepala (Al-Umm:6), bahkan ia telah mampu memberikan komentar terhadap beberapa hadits yang ditulis oleh seorang guru besar ahli Hadits dan ahli Fiqih itu. Syafi’i kemeudian belajar kepada Imam Malik dalam berbagai disiplin ilmu selama bertahun-tahun sampai gurunya wafat. Imam Malik sangat mengagumi muridnya, sehingga beliau mengatakan: “Syafi’i adalah seorang alim berbangsa Quraisy yang ilmunya akan merata ke seluruh jagat raya”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s