Biografi Imam Syafi’i (2)

Sepeninggalnya Imam Malik, Syafi’i belum merasa puas untuk menggali ilmu pengetahuan, karena itu ia melanjutkan perjalanan ke Yaman untuk mendalami berbagai disiplin ilmu agama. Di Yaman, selain mencari ilmu, Syafi’i ditantang dengan berbagai kenyataan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat, agar ia mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau selama ini, ia mempelajari ilmu lebih banyak bersifat teoritis, di Yaman diharapkan ia mengaplikasikan ilmunya dalam praktik yang nyata. Setelah mengalami kehidupan yang sangat berbeda antara Yaman dan Madinah, Syafi’i masih terus merasa kehausan pada ilmu pengetahuan, karena itu ia bertekad untuk menggali ilmu dari kalangan ulama fiqih rasional yang mendasarkan pemahaman terhadap AlQuran dan Sunnah pada pendekatan rasio dan analogi (qiyas).

Kalau corak fiqih di Madinah yang dikembangkan oleh Imam Malik sebagai fiqih tradisional yang sangat kuat berbegang pada hadits, maka corak fiqih rasiona yang dikembangkan oleh Imam Abu Hanifah di Kufah (Iraq) lebih banyak menggunakan rasio dan analogi. Karena itu, disebut: Ahlu Ra’yi. Hal ini adalah wajar, karena situasi di Iraq berbeda dengan Madinah. Madinah merupakan sumber dari hadits Nabi Muhammad SAW. Sehingga banyak dijumpai oleh para tabi’in. Sebaliknay di Iraq jauh dari sumber hadits, sedangkan waktu itu komunikasi dan transportasi masih sangat sulit. Maka Imam Abu Hanifah, selain berpedoman pada AlQuran dan Sunnah, beliau juga mengembangkan fiqih rasional.

Murid-murid Imam Abu Hanifah, seperti Imam Abu Yusuf, Imam Muhammad Bin Hasan Al-Syaibani, karena keduanya belajar dan mendalami hadits dari Imam Malik di Madinah, melakukan suatu kodifikasi antara fiqih rasional yang dikembangkan oleh gurunya Imam Abu Hanifah, dan fiqih tradisional yang diperoleh dari gurunya yaitu: Imam Malik di Madinah. Dengan demikian mereka berdua membatasi penggunaan rasio dan qiyas, tidak seperti Imam Abu Hanifah yang sangat bebas dalam menggunakan kedua metode tersebut. Mereka berdua berusaha melakukan kajian ulang terhadap pemikiran-pemikiran fiqih rasional dengan pendekatan hadits shahih, sehingga terjadi perubahan-perubahan yang signifikan, bila dibandingkan dengan fiqih yang berkembang di Kufah, sebelum kedua tokoh ini memadukan antara fiqih rasiona dan tradisional.

Imam syafi’i tersus mengejar ilmu-ilmu yang bermanfaat, dengan merantau ke Kufah (Iraq) dari berbagai kota, serta negara lain, seperti ke negara-negara Persia, seluruh wilayah Iraq, ke wilayah bagian sebelah kiri Iraq,  sampai ke sebelah utara Konstantinopel, Heran, Palestina, dan berbagai kota lain. Merantau untuk mencari ilmu dan pengalaman, menurut Syafi’i merupakan suatu syarat apabila seseorang ingin memperoleh kedudukan yang tinggi dan mulia, baik didunia maupun di akhirat. Tentang merantau, ia mengungkapkan dalam beberapa Syairnya yang indah antara lain:

“Tidak akan tinggal di kampung halamannya saja, bagi orang yang memiliki kecerdasan dan adab yang tinggi, tapi dia akan pergi meninggalkan tempatnya. Maka tinggalkanlah tanah airmu dan merantaulah”. “Pergi dan merantaulah di tempat yang baru, anda akan menjumpai orang-orang anda tinggalkan, dan bersusah payahlah karena sesungguhnya kelezatan hidup itu berada dalam susah payah”. “Sesungguhnya aku melihat diamnya air itu akan mengeruhkan dan merusakkannya, apabila air itu mengalir, ia akan menjadi jernih, dan apabila tidak mengalir, selamanya tidak akan jernih. Seekor singa pada saat ia berada dalam sarangnya  saja, tidak akan dapat menerkam mangsanya. Anak panahpun tidak akan mengenai sasarannya, sebelum ia terlepas dari busurnya.”(Diwan Al-Imam AsySyafi’i, 1992:33)

Syair diatas menggambarkan betapa kerasnya Imam Syafi’i memiliki kemauan untuk mencari ilmu dan pengalaman, sehingga ia merantau di berbagai kota dan negara, dan ia mempersyaraktan bagi orang-orang yang ingim meraih kesuksesan yang spektakuler untuk gemar merantau, dalam rangka mecari ilmu dan menimba pengalaman. Di Kuffah (Irak), Imam Syafi’i  tidak berjumpa dengan Imam Abu Hanifah, karena ia wafat bersamaan dengan lahirnya Imam Syafi’i, yaitu sekitar tahun 150 H. Karena itu Syafi’i mendalami fiqih rasional melalui dua orang murid Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Al-Syaibani. Ketika beliau sampai di Irak, ternyata Abu Yusuf pun telah wafat dua tahun sebelumnya. Maka ia pun belajar dan berguru kepada Imam Muhammad bin Hasan Al-Syaibani. Pertemuan itu dimanfaatkan semaksimal mungkin olehnya untuk menggali fiqih rasional langsung dari sumbernya. Dalam waktu singkat, ia mampu menyerap ilmu Muhammad bin Hasan Al-Syaibani, sampai ia menguasai fiqih rasional hingga masalah yang sepelik apapun. Tidak hanya sampai di situ, ‘allamah Syafi’i juga telah membukukan dan memberikan komentar yang tajam, terhadap pemikiran fiqih rasional yang dikembangkan gurunya di Irak.
Setelah berkali-kali Syafi’i pulang pergi mengunjungi Irak, ia bermaksud akan merantau dan tinggal di Mesir dan ditemani oleh Al-Rabi’ bin Sulaiman dan Abdullah bin Al Zubain Al Khamaidy di akhir bulan syawal 198 H. Syafi’i mulai menyampaikan pemikiran-pemikirannya di Mesjid Raya Amr bin Al-Ash di Fusthath kota lama Kairo. Karir ilmiahnya di Mesir semakin benderang, ketika sejumlah ulama-ulama  besar di Mesir sangat tertarik dan mengikuti pemikiran-pemikirannya. Kepandaian berorasi, kecerdasannya dan ketajamannya dalam berargumen menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk Mesir, sehingga banyak pengikut Madzhab Maliki dan Abu Hanifah yang pindah mengikuti madzhabnya. Adalah menarik kegiatan harian Syafi’i di Mesir, menurut Prof. Mustafa Munir Adham, Syafi’i adalah orang yang pertama kali membiasakan bekerja sampai waktu dzuhur. Ia bekerja selama delapan jam di Masjid, dari jam 4 pagi sampai jam 12 siang. Adapun aktifitasnya di malam hari, beliau membagi malam menjadi tiga bagian: sepertiga malam pertama digunakan untuk menulis, sepertiga yang kedua untuk tidur, dan sepertiga malam terakhir untuk tahajjud dan berdo’a. (A. Nahrowi Abdussalam, 1998:82. Bandingkan Al-Umm:10)

Kuliah-kuliah Syafi’i di Mesir merupakan forum kajian ilmiah yang sangat mengagumkan, karena peminatnya bukan saja dari kalangan ulama-ulama dan intelektual, sebagaimana disebutkan di atas, tetapi juga dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat dan rakyat secara umum. Selama sekitar lima atau enam tahun, Syafi’i berhasil menulis maha karya ilmiah yang merekam pemikiran agama dan fiqih barunya, yang merupakan jalan tengah antara fiqih tradisional dan fiqih rasional. Sebagian dari karya tulisnya setelah meninggalkan Irak disebut Al-Qaulul Jadiid. Sementara rekaman pemikiran fiqihnya sebelum berkiprah di Mesir di sebut Al-Qaulul Qadim. Masa hidupnya penuh dengan perjuangan, pengorbanan dan produktifitas ilmiahnya sangat mengagumkan, menetapkan produk-produk hukum, menggali sumber-sumber hukum, menyebarkan ilmu dan menulis karya-karya ilmiah.  Di akhir hayatnya, ketika belia tinggal di Mesir, kebesaran Syafi’i  tampak sangat cemerlang, akhlak dan kepribadiannya sangat agung, namanya sangat masyhur, dan karya-karya ilmiahnya menyebar ke seluruh plosok-plosok dunia. Beliau wafat menghadap Khaliqnya pada hari Jum’at di akhir bulan Rajab 204 H. Setelah beliau mewariskan peninggalan sangat berharga bagi umat Islam sedunia, berupa karya-karya ilmiah dan madzhab fiqihnya. Semoga Alloh SWT meridloinya.

Imam Syafi’i memiliki keagungan yang cemerlang, dikenang oleh penduduk negeri di berbagai negara, ia menyandang predikat yang sangat banyak, melekat erat pada dirinya, antara lain: pelajar teladan, sastrawan dan penyair, ahli ilmu-ilmu AlQur’an, ahli hadits dan pembela Al-Sunnah, sebagai mufti, ahli fiqih yang tergolong mujtahid mutlak, penggagas ilmu ushul fiqih, sampai pendiri madzhab Syafi’i. Kebesaran beliau terlukis dengan jelas, berdasarkan pengakuan teman dan murid-muridnya. Imam Ahmad bin Hambal, seorang pendiri madzhab Hambali, murid dan pengagum Imam Syafi’i berkata: “Para ahli hadits dipakai oleh Abu Hanifah tidak diperdebatkan, sehingga kami bertemu dengan Imam Syafi’i. Ia adalah orang yang paling memahami AlQuran danal-Sunnah, dan sangat peduli terhadap Hadits”.

Imam Husein bin ‘Ali bin Yazid, berkata: “Imam Syafi’i adalah rahmat bagi umat Nabi Muhammad SAW. Kami dan orang-orang terdahulu sebelumnya tidak mengetahui dengan jelas apa itu al-Kitab dan al-Sunnah, sampai kami mendengarnya dari Imam Syafi’i tentang kedua sumber hukum Islam itu, dan Ijma’. (Al-Umm: 6). Al-Humaidi berkata: “Kami pernah berdebat dengan pengikut rasionalis, tapi kami tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkannya. Lalu Imam Syafi’i datang kepada kami, dan memberitahukan bagaimana cara berdebat dengan mereka, sehingga kami menjadi unggul dan dapat mematahkan argumen mereka. Mengenai bertukar pikiran dengan seseorang, Syafi’i berdo’a: “Wahai Alloh, jadikanlah kebenaran pada hati dan lisannya. Apabila kebenaran berpihak padaku, semoga ia mengikuti aku, dan apabila kebenaran berpihak padanya semoga aku sanggup mengikutinya. (Al-Umm:7).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s